
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, muncul sebuah filosofi gaya hidup yang menarik perhatian banyak orang: Slow Living.
Namun, apakah konsep ini sesuai dengan nilai-nilai Islam yang telah mengajarkan kehidupan yang seimbang dan penuh makna?
Globalisasi dan budaya kerja yang cepat dari Barat telah mengambil alih banyak aspek kehidupan kita selama bertahun-tahun. Sejak pandemi hingga pasca-pandemi sekarang ini, banyak trend gaya hidup yang muncul, dan hidup dengan melambat mulai mendapatkan kepentingan yang signifikan seiring dengan berjalannya waktu. Dalam artikel ini, kita akan memahaminya secara mendalam dan belajar bagaimana hidup melambat dari sudut pandang Islam. Karena kita menjalani hidup di penghujung hari, namun betapa bermaknanya kita menghabiskan hidup kita dan hidup di masa sekarang itu sangatlah penting.
Hidup dengan lambat dijelaskan dari sudut pandang Islam.
Islam mendorong para penganutnya untuk mejalani kehidupan dengan penuh kesederhanaan, kepiasan dan bermartabat. Agama kita berfokus pada hidup dengan lambat, dengan merenungkan isi pikiran kita dan menjauh dari gangguan yang tidak perlu. Sejak tren gaya hidup Slow Living lebih banyak membahas tentang hidup melambat, Islam sudah menjelaskan konsep ini dari 14 abad yang lalu.
Gaya hidup slow living tidak hanya sekadar tentang melambatkan tempo, tetapi lebih pada kesadaran penuh terhadap setiap momen dan nilai-nilai yang dianut. Dalam Islam, konsep ini bisa ditemukan dalam ajaran-ajaran yang menekankan pentingnya kesederhanaan, kesabaran, dan penghargaan terhadap waktu. Al-Qur’an sendiri mengajarkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah dan membutuhkan ketenangan (QS. Al-Mu’minun: 115).

Apa itu hidup dengan lambat?
Hidup dengan lambat melibatkan fokus lebih pada masa kini daripada masa depan, hal tersebut merupakan pola pikir yang mengambil perspektif khusus dan sadar terhadap kehidupan sehari-hari. Alih-alih mencoba mengisi setiap ruang kosong dan waktu dalam hidup kita, hidup dengan melambat adalah tentang merangkul kesunyian. Ini bukan artinya melakukan lebih banyak dan lebih banyak lagi, namun tentang melakukan lebih sedikit tetapi dengan menggunakan lebih banyak niat dan makna. Hal tersebut menentang budaya kesibukan dan berfokus pada meminimalkan kewajiban kita, sehingga kita dapat menekankan hal-hal sesuai dengan nilai-nilai kita. Gaya hidup dengan melambat dapat dengan memberikan prioritas pada kesehatan fisik dan mental kita.

Mengapa hidup dengan lambat sangat penting untuk Sahabat NUA?
Hidup dengan lambat mengajarkan Sahabat NUA untuk menjelajahi cara hidup yang tidak terlalu kacau dan lebih damai. Bukan berarti Sahabat NUA harus mennghindari aktivitas sehari-hari, melainkan hal ini didasari pada gagasan bahwa kita harus berhentu sejenak dan merenungkan tindakan dan pikiran kita dengan melibatkan dan menjalani kehidupan yang lebih memuaskan dan damai, daripada menjalani kehidupan yang serba dinamis dan serba cepat yang tidak bermanfaat bagi kita.

Mengapa Slow Living sangat penting bagi Sahabat NUA?
Kami telah mencantumkan beberapa alasannya:
- Lebih banyak rasa syukur dan pujian kepada Allah SWT.
- Menjalani gaya hidup yang lebih baik dan damai.
- Mendapatkan waktu yang lebih banyak untuk melakukan hal-hal yang bisa dinikmati.
- Menjalani komitmen hidup yang lebih sedikit.
- Meningkatkan produktivitas.
- Memiliki hubungan social yang lebih kuat.
- Mendapatkan kesehatan mental dan fisik yang jauh lebih stabil.
Hidup dengan melambat merupakan tentang menjaga keseimbangan dalam hidup. Daripada menjalani hidup dengan megejar segala pencapaian baik dalam hal materi, karier maupun status social, lebih baik menjalani hidup dengan melambat dengan menghasilkan kepuasan dan minimalist.

Bagaimana cara menerapkan gaya hidup Slow Living dalam hidup?
Dalam keseharian, praktik slow living dalam Islam mencakup kesadaran akan waktu shalat, dimana setiap momen diarahkan untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta. Hal ini menciptakan ruang untuk refleksi dan koneksi spiritual, memungkinkan umat Islam untuk melambat dan menghargai keberadaan diri mereka di tengah-tengah kesibukan.
Hidup dengan melambat menunut kita untuk memperlambat beberapa aktivitas yang kita lakukan, oleh karena itu kita harus berusaha menikmati hidup dengan berani menggunakan waktu agar dapat melakukan sesuatu dengan sebaik mungkin. Dalam Slow Living, seseorang perlu menjalani hidup dengan penuh kesadaran, kehati-hatian, dan ketenangan. Dengan begitu, kita akan terlepas dari tekanan yang akan muncul. Namun, Slow Living bukanlah sebuah justifikasi untuk bermalas-malasan. Slow Living memang tak mementingkan tingkat produktivitas, namun tetap mendorong untuk menghasilkan kreasi yang berkualitas.
Jika Sahabat NUA ingin memulai menjalani hidup dengan gaya Slow Living, kami telah menyusun beberapa cara untuk membantu Sahabat NUA untuk menyelaraskan rutinitas Sahabat NUA seputar tren ini. Sahabat NUA bisa mulai mengikuti tips ini untuk hidup yang lebih positif dan tenang.
- Menjauh dari kehidupan yang serban cepat.
Untuk mulai menerapkan Slow Living, Sahabat NUA dapat memulai dengan mengurangi kegiatan dan beban pekerjaan. Fokuskanlah untuk mengerjakan hal-hal yang memiliki prioritas paling tinggi. Mulailah menyusun tugas Anda berdasarkan prioritas, dan buatlah daftar tugas untuk mengatur tugas sesuai urutan prioritas. Selesaikan satu tugas pada satu waktu, lalu pindah ke yang berikutnya. Alih-alih melakukan banyak hal sekaligus, coba lakukan satu tugas dan saksikan hasil yang lebih baik dalam produktivitas dan kinerja secara keseluruhan.
- Menerapkan hidup dengan melambat.
Tentu saja, kita sibuk dengan banyak kewajiban, tetapi jika kita tidak menyisihkan waktu untuk diri kita sendiri, hal tersebut akan sia-sia. Pertahankan sebanyak mungkin rencana Anda, tidak perlu berlebihan dalam merencanakan yang akan membuat Sahabat NUA overthinking. Tentukan batasan yang diperlukan dan prioritaskan diri sendiri dan keluarga Anda.
- Melakukan kegiatan yang ringan.
Selain itu, konsep berbagi dalam Islam juga mendukung gaya hidup yang tidak terburu-buru. Memberikan perhatian kepada sesama, menghargai hubungan sosial, dan memberikan waktu untuk kebaikan merupakan bagian integral dari kehidupan seorang Muslim. Dengan demikian, Slow Living dalam konteks Islam tidak hanya tentang meredakan tempo kehidupan pribadi, tetapi juga membangun kehidupan sosial yang lebih bermakna. Melakukan waktu untuk kegiatan yang ringan merupakan kegiatan untuk menikmati waktu dengan cara hidup melambat. Kita bisa memulai dengan banyak hobi yang lambat dan membutuhkan waktu kita yang khusus dan memungkinkan kita untuk memperhatikan tugas tertentu. Beberapa contoh kegiatan yang lambat dapat mencakup; menulis, atau journaling, membuat roti, melukis, berkebun, bersepeda, atau membuat kerajinan tangan.
- Menggunakan dan membeli produk lokal.
Gaya hidup slow living dalam Islam juga mencakup kesadaran terhadap konsumsi dan pengelolaan sumber daya. Mengurangi pemborosan, hidup dengan sederhana, dan menjaga lingkungan adalah nilai-nilai yang sejalan dengan ajaran Islam tentang tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Memulai dengan membeli beberapa produk lokal dari UMKM terdekat dapat membantu dan menunjang kehidupan orang lain. Hal tersebut sangat bermanfaat serta dapat mendukung komunitas bisnis kecil. Dengan mengurangi ketergantungna pada makanan cepat saji atau fastfood, Sahabat NUA bisa memulai dengan mencoba memesan masakan warga lokal atau mencoba berbelanja dari usaha yang mereka perjual belikan.
- Menerapkan dan menerima kenyataan hidup dengan mindfulness.
Hidup dengan melambat pada dasarnya mengalihkan kita ke arah kesadaran yang bisa kita praktikkan melalui berbagai aktivitas, seperti yoga dan meditasi, menjadi relawan dibeberapa kegiatan sosial setempat, dan berkebun.
- Percayalah kepada Allah SWT.
Saat kita mempraktikkan hidup dengan lambat dan menghabiskan waktu dengan merenung dan mengkalibrasi diri, kita menjadi lebih terkait dengan Allah (SWT). Hal ini memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan Yang Maha Kuasa dan berbagi apa yang ada di hati kita. Hal tersebut menghilangkan kekhawatiran kita dan membantu kita mengalami pendekatan kehidupan yang lebih spiritual. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah berfirman:
“.. Dia bersama kamu di mana pun kamu berada.” – Q.S Al-Hadid Ayat 4
“Hati itu ternoda oleh dua hal: kelalaian (al-ghaflah) dan dosa. Dan hati itu dipoles oleh dua hal: mencari ampun dan mengingat Allah SWT.” [al-Qahirah: Dār al-Ḥadith, 1999), 1:40]
Salah satu manfaat terbesar dari hidup dengan melambat adalah dengan menyisihkan waktu dan kedamaian untuk membangun hubungan yang bermakna. Hal tersebut bisa dilakukan dengan orang lain, alam sekitar atau dengan hati serta pikiran kita.
Dengan menggabungkan nilai-nilai Islam dengan konsep slow living, umat Muslim dapat menemukan harmoni dan keseimbangan dalam hidup mereka. Melalui kesadaran penuh terhadap setiap momen, penghargaan terhadap waktu, dan sikap rendah hati, gaya hidup ini dapat menjadi jalan menuju kebahagiaan dan kesejahteraan spiritual yang diajarkan dalam ajaran Islam. Sehingga, di dalam keheningan dan ketenangan, manusia dapat menemukan makna sejati hidupnya, sejalan dengan petunjuk Allah dalam Al-Qur’an.
Untuk melihat informasi lebih lengkapnya, Sahabat NUA bisa kunjungi website kami di All Project NUA Properti dan dapatkan banyak penawaran yang menarik dan terbaik melalui WhatsApp Business kami.
Sumber: https://www.al-hamdoulillah.com/blog/developpement-personnel/slow-living-explained-from-an-islamic-perspective.html

