
Kehidupan modern seakan tak henti mendambakan perubahan. Segala sesuatu yang ada di sekeliling kita terus bergerak maju. Teknologi hadir mempercepat pergerakan tersebut untuk memunculkan hal-hal baru. Kondisi ini menempatkan masyarakat pada fase kehidupan yang cepat dan penuh tuntutan.

Kaum urban dituntut untuk terus mengejar segala pencapaian baik dalam hal materi, karier maupun status sosial. Tak ada jeda untuk merenung, apalagi berefleksi. Sekali kita berhenti untuk sekedar menghela nafas, maka artinya kita perlu lari dua kali lebih cepat demi mengejar ketertinggalan.
Menurut Dr. Stephanie Brown, psikolog asal Silicon Valley, masyarakat modern telah menetapkan “kecepatan” sebagai kunci “kesuksesan”. Namun Brown menilai, kombinasi keduanya justru memunculkan kecenderungan yang bisa menghantarkan mereka pada kelelahan fisik maupun mental berkepanjangan.

Di sisi lain, gaya hidup serba instan juga dapat menurunkan kualitas hubungan sosial dengan orang-orang terdekat. Teknologi memungkinkan kita berkomunikasi dengan lebih cepat, namun sering kali menghambat terjalinnya interaksi sosial yang lebih intim.
Semakin banyak pergerakan yang mencoba menantang konsep gaya hidup cepat, seperti Slow Cities, Slow Parenting maupun Slow Reading. Semuanya berangkat dari dasar permasalahan yang sama, mempercepat segala hal tak selalu memberikan efek positif terhadap peningkatan kualitas hidup.

Sampai akhirnya, setiap gerakan perlawanan terhadap tuntutan gaya hidup yang serba cepat dan berkembang terangkum lebih menyeluruh dalam gaya hidup Slow Living.
Dalam buku In Praise of Slowness: Challenging the Cult of Speed, Carl Honoré menyebut Slow Living sebagai seni menikmati hidup dengan berani menggunakan waktu agar dapat melakukan sesuatu dengan sebaik mungkin.
Dalam Slow Living, seseorang perlu menjalani hidup dengan penuh kesadaran, kehati-hatian, dan ketenangan. Dengan begitu, dia akan terlepas dari tekanan yang muncul dari cara menjalani hidup dengan agresif, terburu-buru, dan instan.

Namun, Slow Living bukanlah sebuah justifikasi untuk bermalas-malasan. Slow Living memang tak mementingkan tingkat produktivitas, namun tetap mendorong untuk menghasilkan kreasi yang berkualitas.
Menurut Honoré, banyak hal berarti yang dilewatkan saat kita terlalu cepat mengerjakan sesuatu. Kita seakan lupa untuk memaknai hal yang kita kerjakan dan sukar untuk menguasai keterampilan tertentu.
Setiap studi yang ditelusuri Honoré, sebagian besar mengungkapkan seseorang yang bekerja sambil diburu waktu cenderung tak bisa menumpahkan kreativitas secara maksimal dan kesulitan menemukan ide-ide yang inovatif.
Untuk mulai menerapkan Slow Living, Honore menyarankan untuk mengurangi kegiatan dan beban pekerjaan. Fokuskanlah untuk mengerjakan hal-hal yang memiliki prioritas paling tinggi. “Dengan berfokus mengerjakan sedikit hal, kamu akan lebih merasa tidak begitu terbebani,” ungkap Honore.

Mencoba konsep Slow Living di lingkungan yang meninggikan budaya bekerja cepat juga bukan berarti tanpa tantangan. Maka dari itu, Hope menyarankan untuk tak ragu memberi penjelasan kenapa konsep Slow Living baik untuk meningkatkan performa kerjamu sehingga bisa diterima dengan positif oleh orang lain.
Selain dalam hal karier dan pekerjaan, Alan Castle dalam Psychology Today, menyebutkan terdapat manfaat lain yang bisa diperoleh saat menjalani hidup dengan lebih santai.
Penerapan konsep Slow Living di lingkungan masyarakat perkotaan pun ternyata lebih esensial dari sekedar pilihan gaya hidup. Penelitian yang dilakukan oleh Professor Steven Neuberg dari Arizona State University mendapati fenomena Slow Living dimanfaatkan sebagai strategi untuk bertahan hidup oleh masyarakat yang tinggal di wilayah padat populasi.
“Dalam lingkungan dengan kepadatan populasi rendah, tidak ada persaingan yang kompetitif untuk memperoleh sumber daya yang tersedia. Strategi hidup lebih cepat dirasa lebih menguntungkan oleh kelompok masyarakat ini,” ungkap Neuberg melalui Science Daily.
Sebaliknya di wilayah padat penduduk, masyarakat perlu berjuang lebih keras untuk memperoleh sumber daya yang jumlahnya terbatas.
Tingkat kompetisi yang tinggi membuat mereka memilih untuk lebih “menahan diri” dalam hal merencanakan kehidupan di masa depan. Untuk bisa sukses bertahan hidup, mereka perlu fokus meningkatkan kemampuan sehingga harus rela menunda pernikahan dan memiliki anak.
Dalam era kehidupan yang terus bergerak cepat dan penuh tuntutan, kami dari NUA Properti Indonesia melalui konsep pembangunan rumah berbasis Slow Living, memahami bahwa gaya hidup modern telah menempatkan masyarakat dalam fase kehidupan yang cepat dan penuh tekanan, NUA Properti mengajak Sahabat NUA untuk melambat, merenung, dan menjalani hidup dengan penuh kesadaran. Konsep Slow Living tidak hanya sekadar mengurangi kecepatan, tetapi juga menghadirkan kualitas kehidupan yang lebih baik. Dalam pembangunan rumah yang mampu mencukupi kebutuhan gaya hidup Slow Living, NUA Properti Indonesia memberikan prioritas pada lingkungan yang mendukung gaya hidup Slow Living, mengurangi kepadatan pada lingkungan bangunan, dan menciptakan ruang bagi penghuni untuk menikmati hidup dengan lebih santai. Dengan memadukan keahlian arsitektur modern dan nilai-nilai Slow Living, NUA Properti tidak hanya menawarkan rumah, tetapi juga sebuah tempat di mana arti hidup yang sejati dapat ditemukan, di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat.
Untuk melihat informasi lebih lengkapnya, Sahabat NUA bisa kunjungi website kami di All Project NUA Properti dan dapatkan banyak penawaran yang menarik dan terbaik melalui WhatsApp Business kami.
Sumber: https://www.dekoruma.com/artikel/88182/mengenal-slow-living

